in

Kedudukan Hadits Dalam Syariat Islam

Dunia Muslim – Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur-an kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau diberikan hak dan wewenang untuk menjelaskan Al-Qur-an, sehingga manusia mendapat petunjuk ke jalan yang lurus dengan Al-Qura’an dan As Sunnah.

Tidak ada jalan yang benar melainkan jalan Al-Qur’an dan Al-Hadits menurut pemahaman Salafush Shalih, mengamalkan Al-Qur’an dan Al-Hadits, menyeru umat Islam untuk berpegang kepada keduanya, komitmen, dan konsisten di atas keduanya.

Generasi awal kaum muslimin telah sepakat, bahwa sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rujukan kedua dalam syari’at Islam. Mereka sepakat bahwa sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rujukan kedua dalam masalah aqidah, hukum-hukum fikih, siyasah (politik) dan pendidikan.

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang muslim menyelisihinya sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hanya karena mengikuti pendapat seseorang atau qiyas, sebagaimana perkataan imam asy-Syafi’i semoga Allah merahmatinya di akhir kitabar risalah, ”Tidak halal menggunakan qiyas (analogi), padahal ada dalil (nash)”.

Dan serupa dengan perkataan beliau adalah apa yang telah dikenal di kalangan ulama masa kini dari kalangan ulama pakar ushul, ”Apabila ada atsar (hadits) maka batallah qiyas”, atau perkataan mereka, “Tidak ada (tidak boleh) ijtihad kalau ada nash”.

Kedudukan Hadits Dalam Syariat Islam

Definisi Hadits

Hadits adalah semua yang warid (datang) dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam baik yang berupa perkataan, perbuatan, persetujuan (diamnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari perbuatan yang terjadi di hadapannya) dan sifat (postur tubuh/perilaku Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam).

1. Contoh hadits perkataan :

Dari Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya, barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia yang ingin dicapainya atau untuk wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

 

2. Contoh hadits perbuatan:

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallaahu anhuma ia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila bangun malam untuk shalat, beliau menggosok giginya dengan siwak.”

 

3. Contoh hadits persetujuan :

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Bibiku Ummu Hufaid pernah memberi hadiah kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupa mentega, keju dan daging dhabb (sejenis biawak).

Beliau makan keju dan menteganya, dan beliau meninggalkan daging biawak karena merasa jijik, kemudian makanan yang dihidangkan kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dimakan (oleh para shahabat).

Jika (dhabb itu) haram, niscaya kami tidak akan makan hidangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.”Kewajiban berhukum dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk berhukum dengan as-Sunnah,

saya mencukupkan di sini dengan menyebutkan sebagian ayat saja sebagai bentuk pengingat, karena sesungguhnya peringatan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

”Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)

”Katakanlah:’Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (QS. Ali Imron:32)

” Dan Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara mereka.” (QS.An-Nisaa’:79-80)

”Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS.An Nisaa’: 59)

Menaati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sepeninggal beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengikuti hadits-hadits beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.  (Aldo Bagus Sadana)

What do you think?

Written by admin

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0
Itikaf dan Lailatul Qadar Di Bulan Ramadhan

Itikaf dan Lailatul Qadar Di Bulan Ramadhan

Kegiatan Salat Tarawih Bid'ah Atau Tidak?

Kegiatan Salat Tarawih Bid’ah Atau Tidak?