in

Menjemput Hidayah Untuk Meraih Keridhoan Allah

Dunia-muslim.id – Al-haq dan al-batil merupakan dua perkara yang bertolak belakang, tidak akan bisa bertemu apalagi menyatu. Al-haq adalah sesuatu yang sudah jelas sebagaimana jelasnya al-batil, sehingga tidak ada pertengahan di antara keduanya.

Allah telah berfirman :

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (al-Balad: 10)

As-Sa’di berkata, “Kami menunjukkan kepadanya dua jalan yaitu jalan kebaikan dan jalan kejelekan serta Kami jelaskan antara petunjuk dan kesesatan serta antara kebenaran dan penyimpangan.

Nikmat yang besar ini menuntut agar setiap hamba melaksanakan hak-hak Allah dan mensyukuri nikmat-Nya serta tidak mempergunakannya dalam bermaksiat kepada Allah , namun manusia tidak mau melaksanakannya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 855)

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insan: 3)

As-Sa’di berkata, “Kemudian Allah  mengutus kepada manusia para rasul dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab dan Allah memberikan hidayah kepada jalan yang akan menyampaikan kepada-Nya, menjelaskannya dan menganjurkan dengannya, dan Dia telah menerangkan apa yang akan didapatkan bila telah sampai kepada-Nya.

Kemudian Allah menjelaskan jalan kebinasaan dan memperingatkan darinya, serta memberitakan apa yang didapatkan bila dia menempuh jalan kebinasaan dan malapetaka tersebut.

Manusia pun terbagi, Ada yang mensyukuri nikmat Allah dan melaksanakan segala apa yang merupakan hak-hak Allah . Ada pula yang kufur terhadap nikmat Allah . Allah telah menganugerahinya nikmat agama dan dunia, namun dia menolaknya dan kufur kepada Rabb-nya. Dia justru menempuh jalan menuju kebinasaan.” (Tafsir as-Sa’di)

Kejelasan dua jalan yang berbeda ini sesungguhnya bagaikan matahari di siang bolong dan bulan purnama di malam hari. Akan tetapi, hanya sedikit orang yang mengenalnya apalagi mengilmuinya. Hal ini karena beberapa faktor, di antaranya:

  1. Kebodohan yang menguasai setiap muslim.
  2. Kelalaian manusia sehingga tidak mau mencari dan mempelajarinya.
  3. Tidak memiliki niat untuk mendapatkannya.
  4. Munculnya para penyeru kesesatan yang mengaku pengikut Rasulullah n namun berjiwa iblis.

Masih banyak lagi faktor lain yang menyebabkan tidak jelasnya kebenaran dan kebatilan. Apabila kita memerhatikan dengan saksama, kita bisa menyimpulkan bahwa seseorang bisa mendapatkan al-haq, berjalan di atasnya, dan terjauhkan dari kebatilan, adalah semata hidayah dari Sang Pencipta.

Hakikat Hidayah dan Macamnya

Kata hidayah berasal dari kata al-hadyu yang bermakna bimbingan hidup, perilaku, dan jalan, sebagaimana dalam firman Allah :

“Sebagai pembimbing hidup bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 2)
Ali z berkata, “Rasulullah berkata kepadaku:

يَا عَلِيُّ سَلِ اللهَ الْهُدَى

‘Wahai ‘Ali, mintalah bimbingan kepada Allah ’.” (HR. al-Imam an-Nasa’i no. 5225 dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i no. 5210)

إِنَّ الْهَدْيَ الصَّالِحَ وَالسَّمْتَ الصَّالِحَ وَالْاِقْتِصَادَ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Bimbingan yang baik dan perilaku yang baik serta berlaku lurus adalah satu bagian dari 25 bagian kenabian.” (Lihat Shahih wa Dhaif al-Jami’ no. 3756 dari sahabat Ibnu Abbas c)

Kita mengetahui bahwa salah satu nama Allah adalah “Al-Haadi” yang artinya Dialah yang telah memperlihatkan dan mengajarkan jalan untuk mengenal-Nya sehingga mereka mengakui rububiyah Allah . Dialah yang membimbing makhluk kepada apa yang dibutuhkannya untuk mempertahankan hidupnya.

Terkadang al-hadyu berarti ketaatan, sebagaimana firman Allah :
“Mereka itulah orang-orang yang telah dibimbing menuju ketaatan, maka ikutilah ketaatan mereka.” (al-An’am: 90) (Lihat al-Qamus bab “Ha” dan an-Nihayah karya Ibnu Atsir 5/253)
Ada dua macam bentuk hidayah.

1. Hidayah al-irsyad (ad-dilalah) dan al-bayan

Hidayah ini artinya penjelasan dan keterangan kepada sebuah jalan. Hidayah ini dimiliki oleh Allah dan oleh makhluk-Nya. Allah l berfirman tentang Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Isra: 9)

Allah menjelaskan tentang Nabi-Nya :

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)

“Orang yang beriman itu berkata, ‘Wahai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar’.” (Ghafir: 38)

2. Hidayah Taufik

hidayah taufik

Hidayah ini hanya dimiliki oleh Allah l semata. Dia akan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan tidak memberikannya kepada yang tidak dikehendaki-Nya pula.
Tentang hidayah ini, Allah berfirman:

“Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” (al-Baqarah: 142)

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash: 56)

Orang yang bertakwa kepada Allah telah mendapatkan kedua jenis hidayah ini.

Adapun selain orang yang bertakwa tidak mendapatkan hidayah taufik. Tentu saja, hidayah bayan tanpa hidayah taufik untuk mengamalkannya, maka dia bukanlah hidayah yang hakiki dan sempurna.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 23)

Syaikhul Islam bin Taimiyah t mengatakan, “Jika hanya sekadar berilmu tentang kebenaran tanpa mengamalkannya maka dia belum mendapatkan hidayah.” (Amradhul Qulub hlm. 32)
Contoh riil kedua jenis hidayah ini adalah ketika Allah dan Rasul-Nya menjelaskan tentang keharaman sesuatu perkara melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Lalu seorang dai menyampaikan ilmunya kepada umat tentang keharaman hal ini. Ini termasuk jenis hidayah yang pertama, hidayah dilalah dan bayan. Apabila umat ini menaati larangan tersebut dengan meninggalkannya, inilah hidayah taufik dari Allah .

Abu Thalib, paman Rasulullah n sekaligus pembela beliau dalam berdakwah, mendapatkan hidayah ad-dilalah dan al-bayan dari Rasulullah . Dia mengetahui agama yang benar. Namun, dia tidak mendapatkan hidayah taufik dari Allah l, sekalipun dia dekat dengan Rasul dari sisi nasab dan usaha untuk melindunginya. Hal itu bukan penjamin untuk dia beriman kepada Allah .

“Ya Allah, tunjukilah kami ke jalan Engkau yang lurus”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Kendatipun manusia mengaku bahwa Muhammad adalah rasul Allah dan Al-Qur’an adalah benar secara global, namun dia tidak mengetahui berbagai ilmu tentang hal yang bermanfaat dan yang memudaratkannya.

Dia tidak mengetahui segala perintah dan larangan berikut segala cabangnya secara rinci. Kalaupun ada yang telah diketahuinya, sangat jauh dari pengamalan. Jika ditakdirkan sampai kepadanya segala perintah dan larangan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya menjelaskan hal-hal yang bersifat umum dan menyeluruh. Tidak mungkin selainnya, tidak disebutkan segala hal yang menjadi kekhususan setiap hamba.

Berdasarkan ini semua, Allah l memerintahkan manusia untuk meminta hidayah ke jalan-Nya yang lurus. Hidayah kepada jalan yang lurus mencakup pengetahuan tentang segala yang dibawa oleh Rasulullah n secara rinci.

Termasuk pula mengilmui segala perintahnya secara menyeluruh. Bahkan, mencakup pula ilham untuk mengamalkan ilmu tersebut, karena jika hanya mengilmui kebenaran tanpa mengamalkannya maka itu bukanlah hidayah.

Oleh karena itu, Allah l berfirman kepada Nabi-Nya setelah perdamaian Hudaibiyah :

“Sesungguhnya Kami telah membukakan kemenangan yang nyata bagimu agar Allah mengampuni dosamu yang telah lewat dan yang akan datang serta agar Allah menyempurnakan nikmatnya atasmu dan memberimu hidayah kepada jalan yang lurus.” (al-Fath: 1—2)

What do you think?

Written by admin

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0
Kiat Meningkatkan Kadar Keimanan

Tips Meningkatkan Kadar Keimanan

memilih pasangan hidup

9 Tips Memilih Pendamping Hidup Dalam Islam